My Opera (orang mualang silahkan klik "My Opera" ini)
http://yakckpakitmuwalang.blogspot.com/
"RUMAH BANYAU" mampu nday ya tuk ngau ngganti ka guna bilek "RUAI"?
RUMAH BETANG MUALANG YANG SUDAH PUNAH Menjelang pertengahan tahun 2007, seorang ponakan yang sudah beberapa tahun tinggal merantau dirumahku sembari mencekal HP setengah berteriak gembira oleh karena dari kampung nun "tidak" begitu jauh disana sudah dapat berselulerria dengan dia yang ada di Jakarta. Surprise memang, tapi sekalian miris... lagi!
Dalam bidang komunikasi secara gampang boleh dibilang begitu majulah negeri Mualang saat ini. Bahkan sangat-sangat lebih maju dibanding beberapa daerah lain yang ada di Indonesia. Dari "kota" kecamatan Balai Sepuak ke kampungku yang kalau jalan kaki kurang lebih tiga atau empat jam saat ini bisa ditempuh ojek motor dalam tempo 2o menit. Sepedamotor sudah cukup banyak berseliweran di kampung, bahkan sekali-sekali sudah ada mobil yang masuk, milik saudagar kecil dikampung. Adanya jalan-jalan darurat yang dibangun barteran dengan serbuan perkebunan kepala sawit memang boleh diakui cukup mempermudah sarana hubungan dari dan ke kampung-kampung. Kenyamanan "kecil" inilah yang dipakai sebagai "penutup mata" sebahagian pemimpin dan warga Mualang saat ini untuk "merelakan" hak-hak atas tanah milik adatnya untuk diserahkan ke perkebunan kelapa sawit yang akhirnya akan beralih menjadi "tanah negara".
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Begitulah kira-kira nasib warga Mualang yang tidak setuju dengan kebijakan pembangunan melalui "Pengusaha Sawit" ini. Bagaimanapun dan dimanapun akhirnya yang "beruang"lah yang kuat. Hak bicarapun selalu didominasi orang beruang. Namanya juga beruang, ya tenaganya so pasti lebih kuat.
Akan tetapi bagaimana dengan dampak yang timbul sebagai akibat dari kemajuan semu ini?
Disatu pihak pendapatan masyarakat belum ada peningkatan berarti, dilain pihak masyarakat "terpaksa" ikut-ikutan berseluler ria membanting tulang sekedar untuk membeli pulsa!
Kenapa bukan pendapatan masyarakat yang didongkrak, malahan semangat konsumerismenya yang dipupuk? Ini lah sesungguhnya "PR" yang sangat perlu dikaji oleh pemimpin wilayah dan para anggota legislatif didaerah ini. Gak usahlah jauh-jauh pake studi banding segala macam kedaerah lain bahkan keluar negeri, karena dengan kasat mata sangat jelas apa yang perlu dibenahi.
Jalan raya boleh ada dan telepon seluler boleh beringtonesria, adat dan budayanya jangan dilupakan. Malah seharusnya pemerintah mendorong dan membantu sepenuhnya membangun kembali rumah-rumah betang orang muwalang oleh karena kalau dirunut kembali kepunahan rumah-rumah betang tidak lain dan tidak bukan oleh karena arah pelaksanaan pembangunan yang ada dari dulu hingga saat ini jelas tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat banyak didaerah tersebut, yang jelas segelintir orang yang berkepentingan saja yang diuntungkan. Bayangkan aja bagaimana orang mualang memperoleh bahan-bahan kayu bermutu jika nantinya tanah dan hutan rimbanya hampir semua sudah ditanami sawit. Bagaimana orang mualang dapat berharap betang panjangnya akan dibangun kembali sebagaimana layaknya betang panjang jaman dulu bilamana "kampung-babas"nya sudah habis "diperimpah" untuk kebon sawit.
Sampai dengan tahun 1980an boleh dikatakan masih mudah bagi masyarakat setempat memperoleh bahan-bahan kayu bermutu seperti kayu besi, tapang, ngelai atau meranti, tapi tidak lagi sekarang. Sebagian besar hutan hampir punah terutama akibat perkebunan (sawit), yang perlu dipertanyakan manfaatnya bagi masyarakat setempat itu sendiri, kecuali bagi segelintir orang dan pengusaha kebon sawit tentunya. Belum lagi dampak pergeseran budaya yang timbul sebagai akibat hilangnya fungsi rumah panjang yang tadinya sangat berguna untuk memudahkan masyarakat berkumpul. bermusyawarah, dan saling mengawasi dan menjaga sebagai satu kesatuan ikatan keluarga yang utuh.
Perlu diingat bahwa dengan punahnya betang panjang mualang maka sendi-sendi kehidupan adat istiadat tanah mualang juga mulai tercabik. Kalau hidup dirumah betang panjang, segala aturan akan mudah dilaksanakan dan ditaati oleh karena hidup dibetang panjang warganya gampang berkomunikasi, bermusyawarah saling berbagi dan saling mengawasi.
Tidak gampang bagi seseorang tumbuh menjadi maling atau pencuri apalagi jadi penjahat atau koruptor oleh karena tingkah laku anak-anak sampai dewasa akan dapat terjaga ketat berkat sistem kekerabatan yang sangat erat dalam lingkungan betang panjang. Aku masih ingat saat masih kelas 1 SD sepulang sekolah biasanya aku pergi kesungai sekedar mancing ikan yang kemudian dibakar sekedar buat makan siang. Biasanya walaupn yang didapat dan dibakar hanya ikan kecil sejenis "seluang (=panyut)", anaktetangga (bilik) sebelah kiri kanan biasanya dibagi ("dikeruping"). Suatu hari aku agak tidak sabar pengen makan sepulang sekolah karena udah begitu lapar. Sementara dibawah "bilik" tetangga sebelah ada ayam yang lagi bertelor. Seorang teman karibku yang juga teman sekelas anak tetanga dibilik yang agak jauh datang dengan membawa piring nasi yang juga tidak ada lauknya. Kemudian dengan pikiran bocah nakal kami berdua, dimulailah aksi percobaan nyolong telur yang baru saja keluar dari pantat ayam tetangga tadi. Temanku memang terkenal berani dan badung. Berhubung aku juga tidak nolak diajak coba-coba, maka enteng aja dia naik tiang tempat kurungan ayam yang lagi nelor ersebut. Namun apes banget karena pas tangannya nyentuh telur ayam, terdengar hentakan kaki menggelegar pada lantai papan diatasnya sekaligus suara seseorang berteriak lantang memarahi. Tanpa menghiraukan perut keroncongan kami berdua pun langsung kabur kearah sungai dan nyeberang masuk kehutan bersembunyi bahkan sampai malam tidak berani pulang. Karena semakin larut kami belum juga pulang dan masih bersembunyi orang sekampung jadi geger dan berusaha mencari menyisir sungai dan semak. Berhubung malam sudah larut dan saking takutnya sembari nangis tersedu dan malu kami pun terpaksa nyerah. Tak ada caci maki dan tak ada pukulan yang kami peroleh, tapi nasihat dan petuah habis2an yang kami dapat malam itu setelah terlebih dahulu disuruh mandi dan makan. Bahkan pemuda yang tadinya memergoki perbuatan kami juga kebagian petuah dan nasihat agar tidak terlalu kasar memarahi karena kami hanyalah anak kecil yang belum begitu mengerti.
Pengalaman "maling gagal" tersebut diatas bagiku hingga kini bahkan masih menyisakan trauma mendalam yang sangat sulit untuk dilupakan. Petatah petitih orang-orang dewasa sekampung yang menasehati hampir sepanjang paroh malem selalu terngiang dikuping manakala ada kesempatan untuk melakukan tindak kecurangan.Untung saja aku tidak jadi pejabat, oleh karena apabila iya, pastilah aku termasuk salah satu dari sedikit pejabat miskin dinegeri ini.
Itulah salah satu contoh unik dan eratnya sistim kekerabatan tinggal di betang panjang Mualang, yang kini hampir punah.Dan sayangnya lagi betang panjang ini sudah diamputasi mulai dari zaman orde lama sampai orde baru, bahkan hingga orde baru jilid 2 inipun amputasi ini terus berlangsung. Akibatnya orang-orang Mualang saat ini lebih suka duduk di kursi plastik daripada diatas "bidai" uwi. Orang lebih senang masak nasi pake rice Cooker daripada harus "netak kayu api". Dan yang bikin miris.... orang-orang Mualang masa kini lebih suka hidup di "belayan sawit" daripada tinggal dirumah betang! Mungkin itulah sebabnya aku memilih tinggal dikota Betawi atau dikota Ponti ataupun dikota kabupaten lainnya di kalbar daripada hidup di "belayan sawit".
SISA PENINGGALAN TERAKHIR RUMAH BETANG PANJANG DI KAMPUNG PAKET MULAU ILEK, KEC.BELITANG HULU, KAB.SANGGAU (SEKARANG KAB.SEKADAU).
PHOTO INI DIBUAT PADA BULAN JUNI 1982.
TERLIHAT SEBAGIAN ATAP YANG ASLINYA ATAP SIRAP DARI KAYU BESI, SEBAGIAN SUDAH DIBONGKAR. PERTANDA AWAL KELANGKAAN DAN PUNAHNYA BAHAN KAYU BERMUTU.
SEBAGIAN YANG TERSISA MASIH TERLIHAT TIANG PENYANGGA DARI KAYU BESI YANG CUKUP TUA BERUMUR SEKITAR 100 TAHUNAN LEBIH.DITAHUN 1982 UNTUK MENCAPAI KAMPUNG INI AKU DAN ISTERI BERJALAN KAKI LEBIH KURANG 1 JAM DARI GEREJA MARANATHA,TEMPAT LANDASAN PESAWAT CESSNA 185 YANG KAMI TUMPANGI MENDARAT.
KINI ANDA BISA NAIK OJEK ATAU BAHKAN MOBIL PRIBADI UNTUK MENCAPAI TEMPAT INI DIMUSIM KERING (KEMARAU). SEDANGKAN DIMUSIM HUJAN PALING HANYA DAPAT DITEMPUH DENGAN OJEK SEPEDA MOTOR DENGAN MENEMPUH PERJALANAN YANG SANGAT MELELAHKAN. 
I
"Inok tuk benung nemuay ka rumah panyai da kampong Paket Mulau Ilek tahun 1982. Rumah panyai tuk nyau nisek agek".
| Potret jalan raya daerah perkebunan. Beginilah kondisi jalan yang ditawarkan pemerintah melalui perkebunan untuk ditukar dengan tanah milik adat mualang! |

Photo dibawah ini "potret" hidup bergotong-royong menumbuk padi "inok-inok" mualang. Hanya saja dulu itu numbuk padi di "lesung" yang beralaskan ruangan berupa dan disebut "teluk" yang dibuat dengan sistem yang sangat unik karena ruang dibagian teluk dari rumah panyai sengaja dibuat seperti ngeper seperti shock breaker pada mobil. Mungkin fungsinya mirip-mirip oleh karena jika numbuk diteluk irama dan suara yang timbul mempunyai nuansa khusus, dan suaranya bahkan bisa terdengar sampai di kejauhan. Lebih teknis lagi mungkin (silahkan dikaji) bahwa ayunan per kayu sebagai penunjang lantai bagian "teluk" ini adalah merupakan peredam sentakan balik dari tenaga sipenumbuk padi sehingga megurangi beban pada bagian tangan dan pergelangan tangan.
Namun sekarang tidak ada/atau tepatnya saya tidak pernah menjumpai lagi "teluk" dan inok-inok numbuk padi di lesung yang beralaskan teluk karena bangunan rumah super modern sekarang ini dikampung tidak lagi dirancang untuk tempat menumbuk padi, melainkan untuk tempat tinggal para buruh kebon sawit